Praha : Prahantatku Sayang Prahantatku Malang

Beberapa akhir pekan yang lewat, gua dan beberapa teman menyempatkan waktu untuk melancong ke Praha. YEAY ! Hatiku senang riang gembira, hari yang kuimpikan ! Terdengar semacam lirik lagu anak-anak tapi biarlah, siapa peduli. Manusia dewasa hanyalah anak-anak dengan badan dan alat kelamin yang lebih besar.

Tak banyak yang gua tahu tentang Praha, kecuali satu hal, tempat ini adalah salah satu sarangnya konser dan pagelaran musik dugem akbar di dunia. Iya kawan, musik ajeb-ajeb yang jedag-jedug itu , yang membuat orang-orang berpesta dan bergoyang sampai hacep !! (pecah maksudnya. Semacam istilah untuk anak party jikalau kiranya acara musik dugem ini berlangsung dengan begitu meriah dan menggelegar. Tak apalah kalau kau tak tahu, kawan. Memang hanya segelintir orang saja yang mengerti) Praha juga terkenal dengan fashion show nya, setidaknya itu yang gua dapat dari menonton acara Victoria’s Secret. Wanita-wanita cantik senang berkunjung ke kota ini, begitulah pikirku. Jadi, dengan segala premis yang ada di otakku tentang Praha, gua sudah menyiapkan mental dan fisik, terutama mata agar selalu tajam dan waspada dalam menangkap sinyal-sinyal paras cantik, rambut pirang-cokelat, dan tubuh semlehoy nan aduhai seksinya. Terlebih lagi, perjalanan kali ini akan sedikit unik karena gua harus naik bus, berangkat jam 12.40 pagi, selama lebih kurang 9 jam, semacam perjalanan bunuh diri. Tapi tak apalah kawan, anggap saja ini jadi semacam hukuman buat pantat gua karena selama ini telah tumbuh dan berkembang dengan begitu hebatnya, sehingga dia menjadi terlalu besar.  “Mengecil lah kau wahai pantat ! Mengecil lah !!” Begitu, kata hatiku selama di dalam bus. Tapi, dia tak kunjung mengecil, gua sedih. Nantilah, gua kikis beberapa sentimeter pake pisau pemotong daging kambing.

 

Praha !!

Tampang kucel, baju kumel, yang penting gaya dulu ! PRAHA !!

 

Sampai di Praha, segala bayang-bayang akan pesta dan dunia gemerlap, secepatnya pupus. Praha, terlalu indah…. Praha penuh sesak, dengan turis-turis kampret yang sedikit banyak mengurangi keindahan kota ini. Tapi yang lebih penting daripada itu, Praha penuh sesak dengan bangunan-bangunan tua yang eksotis sekaligus misterius. Ukuran kotanya yang tak terlalu luas pun membuat Praha mudah untuk dijelajahi. Gua dan teman-teman tak perlu membeli tiket kereta dalam kota karena berjalan kaki pun sudah cukup untuk mengelilingi kota indah ini. Satu lagi, akhirnya di kota ini, gua bisa menggunakan bahasa inggeris ! Praha, sangat sempurna, terutama buat orang-orang yang gemar menikmati keindahan bangunan tua. Mata uang, Koruna, yang lebih murah dibanding Euro juga membuat kota ini menjadi lebih indah. Bagaiama pun juga, kawan, status sosial gua meningkat lah di sana. Iya gua kacung, tapi kacungnya orang Jerman, liburannye ke Praha, hehehe. Hanya satu yang kurang, tidak, dua hal. Bejibunnya turis lain yang datang dan makanan. Makanan di kota ini tak ada yang istimewa, sobat. Standard makanan barat lah, kentang rebus kau kasih bumbu dengan nama-nama ajaib ditambah lauk daging babi atau sapi, jadilah. Tapi akhirnya, siapa peduli? Toh daya tarik paling memikat dari kota ini adalah keindahannya.

Beri gua satu waktu lagi yang sepi (walaupun agak tak mungkin) maka gua tak akan ragu untuk duduk berjam-jam, melamun di tepi jembatan menuju Old Town Praha. Atau sekadar duduk-duduk di salah satu kafe di sana sambil memandang nanar ke arah seniman jalanan yang memainkan musik yang luar biasa indah. Melamun, merenungi betapa random-nya hidup ini dan betapa indahnya kota Praha, seperti Lintong Nihuta, kampung halaman gua nun jauh di Tarutung, utara Sumatera sana. Sejenak, gua merasa rindu kampung halaman, gua rindu rumah. Cukup ironis memang, justru di tempat yang jauh, dipisahkan zona waktu sampai belasan jam, barulah gua ingin pulang. Entah karena Praha yang terlalu indah sehingga gua ingat akan kampung dan rumah yang tak kalah indah atau memang karena gua hanya rindu, yang pasti gua rindu. Tiba-tiba gua teringat sebaris lirik lagu dari The Passenger – Let Her Go (salah satu band yang lagi “happening” banget di dataran Eropa ini. Tiap sore, lagu ini pasti terdengar minimal 2 kali dalam 4 jam. Hits sekali lah kawan) Begini sobat, penggalan liriknya..

You only need the light when it’s burning low..

Only miss the sun when it starts to snow..

Only know your lover when you let her go..

Only know you’ve been high when you are feeling low..

Only hate the road when you are missing home..

Only know your lover when you let her go..

Mungkin, sekarang, gua sudah pergi terlalu jauh. Terlalu jauh jalan yang sudah gua lalui. Entahlah. Tapi bisa jadi, ini hanyalah permulaan. Bahwa sebetulnya, rindu itu hanyalah perasaan semata. Mungkin gua harus terbiasa untuk melepaskan dan merelakan. Entahlah..

 

Sampai jumpa, Praha ! 'Till we meet again..

Sampai jumpa, Praha ! ‘Till we meet again..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s